Menjadi mahasiswa cerdas
1.       Mahasiswa
Mahasiswa, sebenarnya mahasiswa ini siapa, apa tugas mereka dan buat apa mereka mengejar gelar mereka. Mahasiswa ialah suatu tingkatan yang lebih tinggi dari siswa yang dilambangkan dengan masuknya mereka ke sebuah perguruan tingggi. Secara aministrasi, mahasiswa ialah seseorang yang tercatat aktif kuliah dan terdaftar dalam bidang kemahasiswaan  sebuah universitas. Kini saya menjadi seorang mahasiswa, kalau saya ditanya siapa itu mahasiswa, tugas mereka pa dan buat apa gelar mereka saya akan menjawab. Siapa itu mahasiswa, mereka yang belajar di sebuah perguruan tinggi, yang selalu mempelajari sesuai dengan apa program yang mereka ambil. Naumn, tidak menutup kemungkinan mereka menguasai apa yang mereka pelajari dalam program mereka. Tugas mereka belajar dan selalu mengawasi permasalahan yang terjadi di masyarakat, seperti yang sering dikatakan bahwa mahasiswa adalah para penayambung ldiah rakyat. Mereka memburu gelar untuk melengkapi studi mereka dan mendapat posisi di sebuah tatanan masyarakat tanpa melupakan tugas mereka untuk melindungi masyarakat.  Namun. Ternyata saat ini pemahaman itu telah berubah menjadi sebuah pemahaman yang bisa menjatuhkan kewibawaan seorang mahasiswa. Pemahaman yang diputar balikan oleh mereka kaum pemburu gelar tak berintelektual. Yang dalam pola pikir mereka, mereka hanya menginginkan gelar itu untuk posisi dalam sebuah tatanan masyarakat dan bisa saja mereka membodohi yang lain dengan cara mereka.
Terkadang kita selalu salah melihat tentang apa yan terjadi sesungguhnya, kita selalu tertipu dengan penampilan dan rayuan mereka.  Karena yang kita lihat hanyalah isi ijasah saja, tanpa melihat isi dari pemahaman mereka mengenai program mereka. Inilah penyebab mahasiswa negeri kita selalu kalah saing dari negera-negara berkembang yang lainnya. Kita bisa melihat Negara singapura, Negara dengan indeks kepercayaan mahasiswa mereka. Para mahasiswa di singapura selalu menjadi idaman karena mereka menciptakan sesuatu untuk membantu meringankan beban warga negaranya. Bukan malah meciptakan beban untuk warga Negara. Diindonesia sendiri begitu banyak hasil-hasil penelitian yang selalu terbengkalai. Negeri kita merupaka salah satu Negara yang meciptakan kaum intelektual tertinggi, hingga mencapai jutaan orang dengan indeks strata satu. Tapi negeri kita tak selalu lebih hebat dari Negara kain. Negeri kita masih kekurangan professor, dibaningkan Negara jepang yang telah memiliki ribuan professor. Professor ini bukan yang selalu duduk diruangan dan hanya menerima sesuatu yang enak saja, mereka selalu berinovasi agar bagaiman hasil penelitian mereka bisa berkembang dimana-mana dan dimanfaatkan untuk banyak orang. Bukan malah hanya kaum berduit saja yang bisa memilikinya.
Mahasiswa disini di tuntut untuk selalu berinovasi bukan selalu memanfaatkan yang ada. Rata-rata mahasiswa selalu bosan dengan apa yang mereka miliki. Namun, tak ada pemikiran untuk merubahnya biar lebih menarik lagi. Inilah yang dibutuhkan mahasiswa saat ini, selalu memanfaatkan keadaan. Bahkan dalam masyarakat saja mereka sudah sulit untuk bersifat selayaknya mahasiswa. Kini para mahasiswa selalu bangga dengan predikat yang mereka miliki, padahal begitu banyaknya masyrakat yang menunggu hasil-hasil dari didikan perguruan tinggi ini untuk turun di pedesaan.
2.       Mau jadi apa kita?
Pendaftaran mahasiswa telah usai, kini saatnya para mahasiswa yang dinyatakan lulus berkumpul di satu tempat. Tanah lapang yang besar ini telah penuh dengan para pasukan putih hitam yang memegang predikat sebagai mahasiswa baru. Tanah hijau kekuningan berubah menjadi  sebuah lautan manusia ber intelektual yang siap menaati tri dharma perguruan tinggi. Intelektual muda dan baru ini akan siap menjadi seorang mahasiswa yang siap sedia akan persoalan masyarakat di negeri kita ini. Siap membantu masyarakat tertindas dan haknya yang telah di rampas oleh para kaum intelektual tak tahu diri. Mereka menyebut diri mereka sebagai kaum intelektual, namun bagi saya mereka hanyalah kaum intelektual abal-abal yang siap kapan saja menghancurkan dan meratakan para kaum non intelektual. Seperti kita ketahui bahwa, negeri kita terdapat ratusan juta jiwa yang dimana tak semua penduduknya mengenyam pendidikan. Menginjakan kaki ke tingkat sekolah dasar saja sudah merasa bersyukur apalagi hingga kaki mereka terpijak di sebuah perguruan tinggi, dimana para rakyat menganggap bahwa merekalah yang kelak akan melindungi mereka.
Begitu banyak persoalan di negeri ini yang dipandang sebelah mata oleh para kaum intelektual. Mereka hanya selalu menerima keluhan, namun tak mau berpikir untuk menyelesaikan keluhan tersebut. Negeri kita selalu mencetak para sarjana muda, tak tangung-tanggung jutaan orang telah berijasah sarjana. Namun, apakah itu bisa membantu menyelesaikan permasalahan di negeri kita. Kita melihat secara fakta, bahwa para sarjana yang lulus ini rata-rata hanyalah para kaum intelktual pemburu gelar. Yang mereka hanya menggunakan gelar mereka untuk MEMBODOHI kaum non intelektual. Apakah kau mau menjadi seorang pengacara? Pengacara yang siap membantu menyelesaikan permasalahan orang kaya. Apakah kau mau menjadi seorang arsitek? Arsitek untuk selalu membangunkan rumah-rumah megah para pencuri uang Negara. Apakah kau mau menjadi dokter? Dokter yang selalu menyembuhkan penyakit para orang kaya. Inikah yang kalian mau untuk memajukan negara kita. Taukah kau, berapa banyak orang yang tertindas yang tak dibantu oleh kaum pengacara. Taukah kau, begitu banyak penduduk kita yang tak memiliki rumah. Taukah kau, betapa susahnya saudara kita yang sedang terkena penyakit yang tak bisa di sembuhkan hanya karena persoalan biaya. Terus, kemana para kaum intelektual muda negeri kita. Kemana larinya para sarjana negeri kita. Apakah ini hasil pendidikan mereka. Bagaimana dengan para kaum budayawan negeri kita, mereka mempelajari kaum manusia. Namun, mereka tak mampu membaca derita rakyat negeri kita. Para antropolog negeri kita hanya mampu berbicara tanpa memikirkan penyelesaiannya.
Negeri kita kini penuh dengan kaum tertindas. Terus kemana HAM yang di gembor-gemborkan para mahasiswa. Ketika kita melirik sedikit mengenai kaum tertindas. Siapa lagi yang akan menolong mereka kalau bukan para kaum mahasiswa yang disebut-sebut sebagai penyambung lidah masyarakat. Bahkan, sarjana komunikasipun tak mampu menjadi jemabatan untuk menyampaikan derita rakyat negeri kita. Sosiolog yang selalu mempelajari tatanan masyarakat, namun hanya mampu menciptakan tatanan masyarakat yang penuh dengan pembodohan. Sedangkan kaum administrasi Negara, yang selalu sukses dengan penataan yang penuh dengan kedustaan. Sedangkan kita tahu, inilah tugas kita sebenarnya. Kita tak bisa melarikan atau bahakan bersifat apatis terhadap kasus ini. Kini kau harus berpikir, kau mau berhenti sekarang atau terus menolong saudara kita yang telah tertindas dan terrampas hak mereka.
Menjadi mahasiswa cerdas, bukan berarti memiliki IPK 4,00 dan memiliki hasil hasil penelitian yang digunakan hanya untuk mendongkrak popularitas dan kecerdasan di kampus. Apalah gunanya kita kekampus, kalau ujung-ujungnya hanya inilah yang kita kerja. Hanya selalu mengisi otak dengan materi sesuai dengan ilmu yang didalami. Hanya pandai berbicara persoalan dalam buku, namun tak mampu menyelesaikan permasalahan yang nyata-nyata terlihat di negeri kita. Meskipun kami tahu, bahwa buku itu penting untuk menjadi acuan dasar kita menjadi orang yang hebat. Kita sebagai mahasiswa tak dituntut untuk gelar, namun kita di tuntut untuk mampu manyelesaikan permasalahan di negeri kta.
3.       Kaum intelektual bergerak
Di universitas saya sendiri, memiliki 9000 lebih mahasiswa baru yang dinyatakan lulus melalu beberapa jalur yang di tentukan oleh kementrian riset dan teknologi pendidikan tinggi. kini saya mengenyam pendidikan di universitas tadulako. Mencoba keluar dari zona nyaman saya, untuk membantu dan membagi informasi terhadap masyarakat kita yang tertindas yang sudah dilupakan dari para mahasiswa dinegeri kita ini. Apakah 9000 orang ini akan keluar sebagai kaum intelektual yang siap menolong masyarakat terindas atau akan menjadi kaum intelektual yang siap MEMBODOHI kaum intelektual lainnya.
Ketika kita melihat di negeri kita ini, begitu banyak manusia yang dianggap remeh karena hanya terlihat dari penampilan. Mereka hanya berpenampilan seadanya, rambut gondrong dan tak terurus. Pakaian lecek yang selalu mereka gunakan. Baju,sepatu,handphone yang tak bermerk. Herannya, mereka di cap sebagai orang yang bersifat apatis terhadap negeri kita. bahkan dianggap rugi oleh Negara, yang hanya membuat populasi negeri kita bertamabh.  Tetapi ketika kita lihat kenyataanya, para pencuri uang Negara apakah mereka berpenampilan lecek seperti yang tadi kita jelaskan. Tidak!, mereka berpakaian rapi, bahkan berdasi. Rambut tersisir rapi, buku selalu di bawanya. Baju,sepatu dan handphone yang bermerek, dengan bangganya mereka memamerkan. Tapi apa yang terjadi, justru mereka hanya membodohi kaum intelektual lainnya. Kini siapakah yang salah, merka yang salahkah karena sudah sekolah dengan tinggi-tingginya atau karena kita hanya selalu menilai orang dari luarnya. Ada saatnya para orang gondrong berpenampilan rapi, ada pula saatnya mereka berpenampilan lecek.
Ada juga yang memanfaatkan gelarnya untuk menolong sesama, bahkan bisa dikatakan sebagai mahasiswa cumlaude dikampusnya. Tetapi, hanya segelintir orang saja, yang lainnya kemana. Pernahkah kita berpikir untuk menyediakan pekerjaan kepdaa yang lainnya. Semua berpikir hanya untuk meminta, padahal negeri kita sudah jelas tiap tahunnya mencetak ribuan sarjana muda. Artinya, kesempatan untuk satu orang diperebutkan untuk ratusan orang. Cobalah menjadi “agent of change”  agen yang selalu berinovasi. Agen yang selalu menciptakan hal-hal baru. Fungsinya untuk apa, fungsinya untuk menolong warga kita. Mungkin dengan pekerjaan bisa meringankan beban mereka. Itulah yang mahasiswa selalu pikirkan, bukan malahan memikirkan bagaiman biar diri kita sukses sendiri. Seperti perkataan salah satu ahli, dia mengatakan bahwa “saya merindukan seseorang yang rela tak tidur agar orang lain tidur, saya merindukan seseorang yang rela lapar agar orang lain bisa makan”. Ini menjadi salah satu acuan agar kita semangat dengan jati diri kita sebagai mahasiswa yang disebut-sebut sebagai penyambung lidah rakyat.



0 comments: