pagi indah, dengan sejuta sapaan pagi yang menakjubkan. awan sudah menutup saja di balik matahari. membuat keteduhan kepada semua manusia. hijaunya pepohonan menyambut pagi para anak rantau yang hobi traveling. but, hari ini saya tidak berbicara mengenai travel list saya. saya ingin menceritakan mengenai kehidupan perkuliahaan saya.
Hidup menjadi anak rantau merupakan sebuah pilihan untuk saya. Melawan nasib dari sebuah budaya yang tidak pernah yang saya hadapi. Indah memang indah, berani memang berani. Itulah yang saya katakan kepada mereka yang menentangku. Sesungguhnya yang perlu dipersiapkan adalah mental. kupersiapkan mental ini bak baja yang siap melindungi pemakainya. Enak tidak enaknya mesti dipersiapin secara matang. untungnya, setelah mendapatkan kebiasaan mandiri dari beberapa organisasi, membuat saya lebih mantap menentukan pilihan untuk merantau.
Setelah saya memposting perkenalan saya di blog sebelumnya, teman-teman pasti tahu kalau sekarang saya berkuliah di universitas tadulako. Masih di daerah sulawesi, namun lumayan jauh dari kendari.
sesungguhnya, mau kuliah dimanapun itu pilihan teman-teman. tinggal bagaimana teman-teman menjalani keseriusan dalam menempuh pendidikan. Buat teman-teman yang hanya modal pintar mending mesti mikir dua kali. karena yang dibutuhkan itu pintar plus cerdas guys. Kalo iklan-iklannya itu pintar ajah gak cukup, mesti cerdas biar cerdas menata kehidupan. ceileehhhh
Ya iyalah, kan kedepannya pasti bakalan hidup dengan kemandirian. Tidak selamanya kita harus bergantung kepada kedua orang tua ataupun abang atau adik-adik kita ( nggak mungkin kali yah). For teman-teman yang kepengen banget untuk kuliah di luar itu mesti tahan hati, tahan mata, tahan mulut karena ndak selamnya kita bisa memenuhinya dalam sebulan, Terkecuali buat anda yang memang hidup di atas garis kehidupan (dibaca kaya). Nyantai ajah kalau mau kuliah dio luar, banyak loh cobaan yang akan kita hadapi. belum homesicknya. belum lagi lelahnya mesti belajar dan beres-beres rumah. Untuk anak pintar pastinya bakalan sulit nih, but saya percaya kepada anak-anak pintar pasti bisa menemukan sisi kecerdasannya. enak enggaknya yah dihadapi ajah.
Tentunya, budaya bakalan banyak masuk kedalam diri kita. Sebelumnya, budaya tersebut belum pernah kita lakukan. But, setelah kita udah di tempat tersebut, mau tidak mau yah mesti lakuin. Seperti contoh ketika saya di palu, berhubung saya mengambil jurusan Antropologi. Pastinya mesti turun kekampung-kampung. Suatu hari saya berkunjung ke sebuah desa, dimana ketika tamu datang wajib di suguhkan sebuah minuman khas daerah tersebut. Jika disini namanya itu Saguer, kalau kendari namanya Pongasi, kalau di makassar namanya itu Balo. tapi menurut saya itu memiliki rasa yang berbeda-beda (mau ndak mau mesti nyobain). nah buat teman-teman yang memutuskan merantau, mesti berhati-hati terhadap budaya setempat yah. terlebih yang masih sangat dengan local wisdomnya yah.
keep survive buat yang memilih untuk merantau
jangan bosan untuk eksplore daerah tersebut, hehehehe
