Discover Sulawesi
Chapter 2: Bertahan dalam dingin di sebuah lembah duri bumi messenrempulu
Dalam perjalanan saya menuju ke tana toraja, saya nginapnya di desa pana kelurahan duri kecamatan anggeraja kab enrekang. merupakan sebuah daerah yang berada di sebuah lembah pegunungan dan berada di kurang lebih di atas 1000 meter di atas permukaan laut. menuju tempat ini begitu mengesankan karena melewati salah satu objek wisata ikonik kab. enrekang yaitu puncak gunung nona. but gue sedang tidak menjelasin tentang apa yang ada di kabupaten ini.weits, untuk kontur wilayah yang berada di atas 1000an meter pastilah memiliki suhu yang dingin. benar sja, kita akan terbiasa dengan suhu 18 derajat hingga 22 derajat di tempat ini. merupakan suhu yang tidak biasa di negeri indonesia yang notabene memiliki suhu 22-32 derajat celcius. desa ini terletak di sebuah lembah yang begitu mengagumkan dengan mayoritas warganya bekerja sebagai pekebun. maka dari itu tidak heran banyak kebun kita jumpai disini.
| poto by Dolar'story |
jadi pada dasarnya, desa ini benar-benar berda di pinggir jalan poros trans antara kota makassar dan tana toraja. selain suhu yang benar-benar sejuk, di tambah keramahan orang sini yang membuat saya begitu nyaman tinggal di desa ini untuk beberapa hari. sedangkan dalam perihal bertahan hidup di daerah kunjungan, yah jangan bilang. setidaknya saya bisa menyimpan biaya makan saya untuk dijadikan untuk membelikan cinderamata. hiihihi
| poto by Dolar'story |
by the way gays, ada beberapa istilah yang sangat awam di telinga saya ketika berada di tempat ini. salah satunya istilah "kasih turun nasi". sewaktu sedang makan malam saat pertama tiba, saya sedikit kaget atas apa yang saya disuruhkan. saat sedang makan, pemilik rumah berkata, kasih turun nasi, dan itu dilakukan oleh semua orang yang memiliki rumah tersebut. seperti ayah ibunya, anak-anaknya atau bahkan anak mudanya yang sedang satu meja makan dengan kita. mungkin teman saya sudah terbiasa karena ini kampung dia, but gue yang notabene baru pertama kali munculkan diri di kota ini, benar-benar bingung. bayangkan saja diperintahkan untuk menurunkan nasi, dan dalam pemikiran saya adalah kasih taruh nasi di bawa (lantai). dan ternyata maksudnya dalah menuang nasi ke piring lagi atau menambah porsi. bahkan kita akan terus-menerus dipaksa setelah kita tambah, untuk menambah lagi. dan untuk memberikan isyarat bahwa kita telah selesai makan adalah meminum segelas air dan meletakan gelas di atas piring. so, kitatelah berakhir untuk acara makannya. ahahahaha
pagi menyapa saat pertama tiba, dan benar saja saya benar-benar merasa merinding. karena dingin yang tidak biasa dirasakan oleh diri ini sebelumnya. pagi itu mencapai 18 derajat, mulut udah berasap dan kita udah duduk diteras menggunakan sarung. yah, sarung adalah selimut terbaik bagi masyarakat lembah di duri ini. dari yang tua sampai yang muda menggunakan sarung. benar-benar unik dan awesome banget ajah dilihatnya. ditemani secangkir kopi enrekang yang dunia mengenalnya kopi toraja setidaknya menghangatkan pagiku dilembah duri yang super dingin bagi saya. maklum gue kampungan soal dingin-dingin ginian. hehehehe